Apa bisa cinta memilih?
Atau kita memilih cinta?

 

Selama ini saya selalu dipilih cinta, untuk mencintai orang-orang yang tidak akan pernah bisa saya miliki.
Cinta yang memilih saya.
Mereka yang dipilih cinta.
Bukan saya, dan bukan mereka yang memilih cinta.

 

Saat cinta memilih kita, then suddenly there’s nothing we can do to avoid those feeling growth inside. Saya tidak cinta dia pada awalnya. Tapi cinta has lead me to falling in love dengannya. And once again, there was nothing I can do then just surrender to love (no matter how hard I tried to run). Sampai akhirnya saya benar-benar jatuh cinta kepadanya yang tidak pernah mencintai saya. Dan sampai sekarang saya tidak bisa mengerti mengapa …

 

(Saya mencintai dia, cinta memilih saya.)

 

mengapa cinta memilih saya untuk jatuh cinta kepadanya …
Tapi saya tahu saya tidak perlu bertanya mengapa …
Karena Cinta yang memilih.

 

Saya telah meminta kepada Tuhan untuk jangan pernah membuat saya jatuh cinta lagi kepada orang-orang yang tak akan pernah bisa saya miliki. Tapi sekali lagi, cinta yang memilih.
Andai saya juga bisa memilih …

 

Saya tidak memilih mu untuk bisa dicintai … tapi cinta yang memilih saya untuk jatuh cinta kepada mu … apa itu salah saya? Atau salah Cinta?
Tapi kamu tak akan pernah bisa menyalahkan sesuatu yang absurd. Maka kamu menyalahkan saya.

 

Padahal, bukan saya yang memilih.

 

Tapi Cinta yang memilih saya untuk jatuh cinta kepada mu.

 

Saya berharap kamu tahu rasanya.
Betapa sulitnya melepaskan diri saat cinta memanggil dan memilih mu. Meskipun kamu telah memohon untuk tidak dipilih dan tidak mau mencinta. But you can never run too far.
Saya harap kamu tahu betapa sulitnya menjadi saya.

 

Saya tidak memilih mu … atau mereka untuk saya cintai. Saya tak punya kuasa untuk menentukan dan memilih. Saya harap kamu tahu …

 

Kamu tahu betapa bencinya saya dengan Cinta … ? Kamu tahu betapa sakitnya saat dia datang kembali kepada saya … ? karena saya tahu bahwa saya tidak akan pernah bisa memiliki orang-orang yang saya cinta. Karena saya tahu cinta selalu datang dengan rasa sakit pada akhirnya. Tapi cinta selalu seperti sahabat karib yang rutin datang mengunjungi meskipun telah lama saya jenuh dengannya.

 

Saya harap kamu tahu … Saya harap kamu tidak benci saya karena mencintai mu … saya tidak memilih mu, cinta yang memilih saya untuk jatuh cinta kepada mu. Saya minta maaf …

 

dan terima kasih sekali lagi telah membuat saya mencintai. Meski kamu tak akan pernah tahu betapa sakitnya saya dibuat oleh cinta. Namun … terima kasih sekali lagi telah hadir dalam satu lembaran kisah cinta saya. Telah letih saya saat ini.

 

Atas nama cinta yang tidak dan selalu tidak akan pernah saya miliki … saya mohon untuk bisa berhenti mencinta.
Saya berharap cinta tidak akan hadir lagi dalam kehidupan saya selanjutnya …

 

Saya letih, dan terlalu lelah …
Cinta seperti anak panah … kita tak akan pernah tahu kemana ia melesat … dan dimana dia akan tertancap.”  (taken from : ”I Love You Om”)